Langsung ke konten utama

KLAKSON

 

Saya selalu mengibaratkan klakson sebagai mulut atau sikap.

Saat di jalan raya banyak sekali kita temui sifat sifat orang dalam hal menggunakan klaksonnya

Ada yang jarang sekali menekan klakson lebih mendahulukan penggunaan rem atau memberikan kesempatan kepada pengguna jalan lain. Klakson hanya digunakannya dalam kondisi darurat saja atau saat memberi isyarat saat di persimpangan dan saat mendahului.

Ada yang gampang sekali untuk menekan klakson seperti semacam kebutuhan pokok, macet sedikit tekan klakson, ada orang menyeberang ngelakson, jalurnya diserobot ngelakson, banyak lagi sebab sebab kecil yang sederhana membuatnya membunyikan klakson yang sebenarnya selalu ada pilihan untuk menekan rem atau memperlambat kendaraan bisa juga sejenak observasi sekeliling apa yang sebenarnya menjadi sebab.

Setidaknya itulah gambaran kehidupan saat ini banyak orang lebih memilih berkomentar tanpa melihat dahulu apa sebenarnya yang terjadi atau membaca lebih detail.

Bisa juga saya mengartikan sebagai keluhan, orang yang banyak membunyikan klakson ibarat orang yang mudah sekali mengeluh, punya masalah sedikit mengeluh, apa apa yang tidak sesuai dengan harapannya mengeluh, tanpa introspeksi dulu apa sebenarnya yang menjadi penyebab masalah.

 

 

Cakung, 2 Juli 2021

Komentar